Sejarah Desa Jati

Desa Jati berasal atau bermula dari daerah yang merupakan wilayah dari Keraton Mangkunegaran Solo. Semula merupakan daerah Kademangan Jati bagian dari Kraton Mangkunegaran, meliputi Desa Jati, Desa Lalung dan Desa Jongke sekarang ini.

Pertama kali Kademangan Jati dijabat oleh Demang Suto Setiko yang ulai menjabat sekitar tahun 1890 M. Sebagaimana pada jaman dulu, maka kantor untuk menjalankan pemerintahan Kademangan Jati berada di rumah Demang yang menjabat, dalam masa ini, rumah Demang Suto Setiko di Dusun Jati.

Sepeninggal Demang Suto setiko, Kademangan Jati digantikan oleh Demang Poncowiguno yang terkenal dengan sebutan Demang Mlori, karena memerintah dari Dusun Mlori. Demang Poncowiguno didampingi Demang Poncolegeno dalam menjalankan pemerintahan. Beliau memerintah Kademangan Jati hingga tahun 1937. Beliau wafat dan dimakamkan di Banyak Matesih. Rumah Demang Poncowiguno, yang sekaligus tempat untuk menjalankan pemerintahan Kademangan Jati sampai sekarang masih berdiri kokoh.

Demang Poncowiguno kemudian digantikan oleh Jabung Soikromo, pria tampan dari daerah Dengkeng, Matesih. Jabung Soikromo memerintah sejak tahun 1937 didampingi oleh Wiro Sumarto hingga tahun 1943. Pemerintahan pindah dari rumah Demang Poncowiguno di Dusun Mlori, ke rumah Jabung Soikromo di Karangsono.

Tahun 1943, Jabung Soikromo digantikan oleh pendampingnya Wiro Sumarto, dan pemerintahan pindah dari Karangsono rumah Jabung Soikromo ke rumah Wiro Sumarto di Dusun Karangduren. Wiro Sumarto menjabat pemerintahan Jati hingga tahun 1948. Pada masa inilah wilayah Kademangan Jati mengikuti system pemerintahan Republik Indonesia, sehingga desa Lalung dan Jongke berpisah dari Jati.

Darto Sukarno yang berasal dari Jetis Canden, mulai menggantikan Wiro Sumarto pada tahun 1948. Melalui pilihan yang masa itu dikenal dengan sebutan “KECIK”, Darto Sukarno yang terhitung masih keponakan Wiro Sumarto pejabat sebelumnya, menjabat Kepala Desa Jati hingga tahun 1981. Pemerintahan pun pindah dari Karangduren, rumah Wiro Sumarto, ke Dusun Pundak rumah Darto Sukarno. Beliau menjabat cukup lama, sekitar 30-an tahun, mengalami pasang surut akibat peristiwa Pemberontakan PKI tahun 1965.

Pemerintahan yang cukup lama ini memeberikan kesempatan pada Darto Sukarno untuk menggagas berdirinya kantor pemerintahan tersendiri, terpisah dari rumah pejabatnya. Pada masanya ini Balai Desa Jati, mulai dibangun meskipun belum sempurna, menempati tanah yang sekarang menjadi kompleks kantor dan balai desa yang sekarang ini.

Pada tahun 1981, Darto Sukarno digantikan oleh pemuda dari Dusun Ocak Acik, Drs. Suwarmanto melalui mekanisme pemilihan langsung yang diikuti 3 (tiga) konstestan. Akhirnya tanggal 1 Mei 1981, Suwarmanto dilantik dan sempat memerintah Desa Jati dari rumah Darto Sukarno, pejabat yang digantikannya, selama tiga bulan. Akhirnya setelah tiga bulan, pemerintahan pindah ke Balai Desa Jati yang sekarang ini, meskipun bangunan belum sempurna. Pada masa Suwarmanto inilah, Desa Jati resmi memiliki Balai Desa dan Kantor Pemerintahan Desa Jati. Karean prestasinya itu, Suwarmanto terpilih kembali dan menjabat Kepala Desa 2 (dua) periode hingga tahun 1998.

Selepas jabatan Drs Suwarmanto, Desa Jati dipimpin oleh Sugimin dari Dusun Dukuh. Di damping daryono sebagai Carik, Sugimin menjalankan roda pemerintahan selam satu peride kepemimpinan.

Tahun 1999 Sugimin yang maju lagi dalam pemilihan Kepala Desa Jati, kalah tipis dengan pendatang baru, Haryanta, dari Dusun Jati. Haryanta, yang merupakan keturunan ke-enam Demang Suto Setiko, menjadi Kepala Desa Jati didampingi Daryono sebagai Carik hingga jabatan Carik berganti pada Havidz Hendratno. Pada masa pemerintahan Haryanta inilah, Desa Jati mengalami kemajuan yang pesat, ditunjang perkembangan jaman dan tuntutan perubahan. Karena prestasinya ini, Haryanta terpilih sebagai Keapal Desa Jati hingga 3 (tiga) kali periode pemerintahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *